Melambungnya harga BBM tak membuat pengguna bahan bakar fosil berkurang. Memang sekarang sudah saatnya untuk memikirkan energi yang dapat digunakan untuk mengganti BBM.
Pada dasarnya, sumber energi ada dua macam yaitu sumber energi konvensional seperti batubara, petroleum, gas alam dan sumber energi terbarukan seperti energi matahari, fuel cell, thermo-electric, generator, pembangkit listrik tenaga angin dan sebagainya. Bersamaan dengan pencarian sumber energi terbarukan untuk jangka panjang, diperlukan juga sumber energi yang ramah lingkungan. Salah satu kandidat yang menjajikan sebagai solusi sumber energi untuk masa depan dunia adalah fuel cell. Sumber energi alternatif ini sudah lama diwacanakan agar digunakan secara massal oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menargetkan pada tahun 2020 penggunaaan energi alternatif sudah dapat mencapai lima persen. Ketersediaan untuk bahan baku sudah tidak perlu diragukan lagi.
Salah satu teknologi yang ditawarkan adalah fuel cell yang berbahan bakar dasar hidrogen. Fuel cell itu sendiri merupakan perangkat elektronika yang mampu mengkonversi perubahan energi bebas suatu reaksi elektronika menjadi energi listrik. Prinsip kerja dari fuel cell adalah proses elektrokimia dimana hidrogen dan oksigen digunakan sebagai bahan bakar. Komponen utama fuel cell terdiri dari elektrolit berupa lapisan khusus yang diletakkan diantara dua buah elektroda. Proses kimia yang disebut pertukaran ion terjadi di dalam elektrolit ini dan menghasilkan listrik serta air panas. Fuel cell menghasilkan energi listrik tanpa adanya pembakaran bahan bakarnya, sehingga tidak menghasilkan polusi.
Berbeda dengan baterai, fuel cell tidak hanya menyimpan namun juga menghasilkan energi listrik secara berkesinambungan selama masih ada pasokan bahan bakar. Kelebihan teknologi ini adalah tingkat efisiensinya, tidak bising dan hampir tidak menghasilkan pencemaran sama sekali.
Namun fuel cell disamping kelebihan-kelebihannya juga memiliki kekurangan. Salah satunya adalah cara untuk mendapatkan bahan bakar dari fuel cell yakni hidrogen. Karena sangat sulit untuk mendapatkan hidrogen secara langsung, maka diperlukan tenaga listrik yang sebagian besar dihasilkan dari sumber energi yang menyebabkan polusi agar dapat menghasilkan hidrogen. Permasalahan lain yang muncul adalah kebutuhan infrastruktur pendistribusian hidrogen ke tempat penggunanya. Alternatif untuk permasalahan ini adalah membangung tempat pengisian ulang bahan bakar beserta dengan pembangkitnya sekaligus.
Di negara maju, teknologi fuel cell bukan merupakan barang baru lagi. Negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman maupun Inggris telah mengembangkan teknologi ini sejak lama. Di negara-negara ini yang menjadi pemicu pemakaian hidrogen sebagai bahan bakar kendaraannya adalah isu lingkungan dan konservasi energi. Produsen kendaraan seperti General Motors (GM) misalnya sudah merilis prototipe mobil berbahan bakar hidrogen. Mobil ini menggunakan fuel cell berbentuk wafer yang berfungsi untuk memisahkan atom hidrogen menjadi proton dan elektron. Dengan memakai elektron sebagai arus listrik, digabungkan dengan proton dengan oksigen dari udara, sehingga hasil sampingnya hanya uap air.
Beberapa saat yang lalu, perusahaan asal Kanada meluncurkan generator fuel cell model E8 Portable Power yang berisi dua model fuel cell Powerstack MC250. Pembangkit listrik portabel ini mempunyai kapasitas 2.4 kW dengan tegangan 48 Vdc pada arus 50 A dan efisiensi listrik lebih dari 50 persen. Pembangkit ini ditujukan bagi penerapan stasioner seperti back up untuk tanggapan darurat bagi pengguna komersial maupun militer.
Pertanyaan yang amat mendasar adalah, Bagaimana kebijakan pemerintah di Indonesia sendiri? Kebijakan di bidang energi alternatif memang sudah cukup banyak. Pihak ESDM pun sudah menekankan pihaknya agar mendukung pengembangan teknologi fuel cell berbahan dasar hidrogen. Permasalahannya adalah, apabila negara maju yang sudah berhasil mengaplikasikannya saja, teknologi tersebut masih berupa prototipe, maka Indonesia masih butuh jalan panjang dan berliku.